Titik Nol hingga Jenjang Doktoral

Titik Nol hingga Jenjang Doktoral

SEMARANG -Hakim Pengadilan Agama (PA) Brebes Radi Yusuf SH MH akan menempuh ujian promosi terbuka di program doktor ilmu hukum (PDIH) Unissula, Sabtu (19/4). Promovendus mengangkat penelitian “Rekonstruksi Hukum Pembagian Harta Bersama Akibat Perceraian Berbasis Nilai-Nilai Keadilan”.

Sebagai hakim senior, ayah empat anak itu tergolong gigih membina karir juga berkeinginan kuat rampung studi S-3 tepat waktu. Mengemban tugas di berbagai daerah Radi pun mengawali karir dari nol.

’’Saya meniti karir dari nol. Kiprah saya menjadi abdi masyarakat dimulai ketika mendaftar PNS calon hakim (cakim) tahun 1994. Pemerintah menempatkan saya di PAGorontalo untuk memberikan pelayanan pada warga,’’ kata pria kelahiran Grobogan Juni 1959 itu.

Menjadi hakim anyar di Limboto Gorontalo tak berarti semuanya berjalan mulus. Dia pun menemukan banyak pengalaman dengan berinteraksi dengan masyarakat, termasuk mereka yang berperkara. Bekerja di tempat itu juga membuat dia banyak pengalaman, seperti misalnya harus memutus perkara dengan latar belakang permasalahan berbeda-beda.

Berhadapan dengan masyarakat yang berbeda latar belakang budaya sekaligus membuatnya cermat saat menjatuhkan putusan. ’’Tidak boleh tergesa-gesa, harus jernih dan tentu bijaksana.

Putusan harus mencerminkan rasa keadilan untuk mereka yang berperkara,’’ kata pria yang pernah me­ng­ikuti Penataran Keterampilan Tenaga Hisab Rukyat di PTA Manado (1995), Pelatihan “Orientasi Persidangan Kesaksian Rukyatul Hilal” di Semarang oleh PTA Semarang (2007) hingga, Pelatihan “Sosialisasi Pedoman Perilaku Hakim” di Semarang yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung RI (2008) ini.

Bertugas sebagai hakim PA, peraih master ilmu hukum Unissula tersebut akrab dengan penanganan perkara perceraian (gugat dan talak), warisan, hingga pembagian harta bersama.

Seiring perkembangan zaman, kasus-kasus yang ditangani makin rumit dan pelik. Ini menumbuhkan kesadaran untuk meningkatkan kemampuan akademik. Berpindah tugas di PA Demak (2003), dia memutuskan memperdalam ilmu.

Radi pun memilih magister ilmu hukum Unissula untuk mengasah ilmu. Sebelumnya, dia memang alumnus Fakultas Ilmu Syariah yang kini bernama Fakultas Agama Islam (FAI) Unissula.

Lulus menyandang master, dia seakan belum cukup. Bertepatan dengan kepindahannya ke PA Brebes (2011), dia memutuskan bisa mendapat predikat doktor.

Tak cukup berhasil membina karir dan keilmuan, biduk rumah tangganya juga berjalan harmonis. Empat orang anaknya Eka Raditya, Deni MA, Nafisah Ayu, dan Bagus Ardian berhasil dalam studi yang mereka tekuni. Nafisah, misalnya, meski sempat ditinggal pulang pergi sang ayah bertugas hingga luar Jawa, berhasil meraih titel dokter.

Radi mengaku mendapat banyak pencerahan selama bertugas menjadi hakim. Dia pun banyak berkaca dari pengalaman orang yang mengalami masalah hingga harus maju di pengadilan. ’’Selain bertawakal kepada Allah, semuanya itu menjadi pelajaran berharga bagi saya. Anak-anak meski tinggal di Kota Semarang, sementara saya di luar Jawa tetap bisa menerima semua nasihat saya,’’ katanya

 
You must have the Adobe Flash Player installed to view this player.